counters

Cinta dan Persahabatan

Sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi. Dialah lading hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih. Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu karena kau menghampirinya saat hati lapar dan mencarinya saat tubuh butuh kedamaian. Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”. Dan bilamana ia diam, hatimu tiada ‘kan henti mencoba merangkum bahasa hatinya. Karena tanpa ungkapan kata, dalam rangkuman persahabatan, segala pikiran, hasrat, dan keinginan terlahirkan bersama dengan suka cita yang utuh, pun tiada terkirakan. Dikala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita, karena yang paling kau kasihi dalam dirinya mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya, bagai butuh gunung bagi seorang pendaki, tampak lebih agung, dari pada tanah ngarai dataran. Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan. Karena kasih yang masih menyisakan pamrih, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan. Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu. Gerangan apa sahabat itu, hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekedar bersama dalam membunuh waktu? Carilah ia untuk bersama, menghidupkan sang waktu! Karena dialah yang bias mengisi kekuranganmu, bukan untuk mengisi kekosonganmu. Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa-ria, berbagi kebahagiaan. Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar hari dan gairah segar kehidupan. Kau berdoa hanya pada saat sulit dan perlu, alangkah baiknya kau pun berdoa di dalam suka citamu dan di hari-harimu yang berlimpahan. Sebab, apakah itu selain mengembangkan dirimu di dalam ether hayat? Dan bial dia demi kenyamananmu menuangkan kegelapan kedalam angkasa, maka dia pun demi kesenanganmu menuangkan keluar fajar merekah dari hatimu. Dan pabila kau tak bisa lain kecuali menangis ketika jiwa memanggilmu berdoa, dia akan kembali memacumu dan sekali lagi, walau sampai menangis, sampai pada gilirannya kau akan tertawa. Saat kau berdoa dirimu membubung tinggi untuk menjumpai di udara mereka yang sedang berdoa pada saat itu juga, dan mereka yang tak bisa kau temui kecuali dalam doa. Maka biarlah kunjunganmu ke kuil gaib itu tidak untuk apa pun kecuali kekhusukan dan kerukunan mesra. Sebab, pabila kau masuki kuil tanpa tujuan lain kecuali meminta, engkau takkan menerimanya. Atau bahkan bila kau masuk ke dalamnya untuk memohon kebaikan dari orang lain, kau takkan didengarkan. Cukuplah kau masuki kuil gaib itu. Aku tak kuasa mengajarimu bagaimana berdoa dengan kata-kata. Tuhan tak mendengarkan kata-katamu kecuali bila Dia sendiri memanjatkannya lewat bibirmu. Dan tak dapat aku mengajarimu doa samudra dan rimba raya serta gunung-gemunung. Tapi kau yang lahir dari gunung dan hutan dan samudra dapat menemukan doa mereka di dalam hatimu. Dan bila saja kau mendengarkan keheningan malam, kau akan mendengar mereka bertutur kata dalam kebisuan. “Tuhan kami yang Agung kehendak-Mulah yang menjadi keinginan dalam diri kami. Dorongan –Mulah yang menjadi hasrat dalam diri kami yang akan mengubah malam kami, yang adalah kepunyaan-Mu, menjadi hari yang adalah kepunyaan-Mu jua”.

No comments:

Post a Comment