counters

Sudahkah Aku Terlihat Jeas Di Matamu?

Cinta bukan hanya tentang bagaimana cara mencintai. Tapi cinta juga tentang bagaimana cara menghargai cinta yang telah kamu miliki.
Hallo sayang, apa kabar dengan cintamu yang sekarang ? masih tetap dengan ku kah atau sudah ada nama lain yang menghiasi hatimu? semoga tidak.
Hadir mu yang jauh tak pernah ku pandang, namun yakin akan kepastian cintamu yang tak akan hilang. Rindu yang ku rasakan jauh sudah sebelum kamu mengenalnya. Tak pernah terungkap namun cukup terselipkan dalam doa di setiap sujud ku.
Aku tidak akan menuntut sedikitpun tentang pengurangan waktu mu. Waktu kebersamaan dengan teman teman mu, waktu berkumpul tertawa, dan mengahabiskan malam dengan mereka atau apapun itu. Taukah sayang ? aku hanya minta penambahan waktu mu dengan Nya. Bisa kah kamu lakukan itu untuk ku ? karena Nya aku percaya cinta mu yang jauh akan tetap terlindungi.
Sayang, jika kehadiran ku sudah mulai terlihat jelas nanti bisa kah kamu berjanji untuk tidak menutupinya lagi?. Menutupi dengan asap dan kabut cinta mu dengan yang lain. Jika kamu belum mampu maka biarkan aku tetap seperti ini. Aku tidak menginkan yang lain sekarang. Aku hanya menginginkan kesadaran mu bahwa tidak semua cinta perlu dasar untuk mencintai.

Tak Pernah Ada Sempurna

Terinspirasi dari tulisan seorang dosen… “Manusia tidak ada yang sempurna”, pepatah ini bukanlah sebuah pembelaan diri. Kesempurnaan hidup tak akan pernah kita dapatkan. Ada saja kurangnya, ada saja cacatnya.
Mendapatkan jodoh yang ideal, misalnya, yang hanya ada di dalam dongeng-dongeng. Yang selalu diakhiri dengan pangeran dan putri menikah, dan mereka hidup bahagia selama2nya. Yang ideal itu tidak akan pernah ada. Ada saja kurangnya. Karenanya perlu direvisi. Pangeran dan putri menikah, mereka kadang2 mendapat nikmat lalu bersyukur, kadang2 mendapat musibah lalu bersabar. Mereka hidup dalam taat lagi istiqomah, sampai wafat khusnul khotimah baru mereka bahagia disisi-Nya. Mengutip kata2 Salim A. Fillah.
Sekalipun seromantis2nya seperti dalam kisah Layla dan Majnun atau Romeo dan Juliet yang menampilkan betapa idealnya mereka. Andai saja Layla dan Majnun atau Romeo dan Juliet sampai menikah, mereka akan tahu banyak masalah dalam rumah tangga dan mereka akan bertengkar. Maka, lebih penting untuk mencintai wanita yang kau nikahi daripada menikahi wanita yang kau cintai. Mengutip kata2 Dr. Zakir Naik.
Maka dibalik kekurangan ada kelebihan. Jadi kelebihan itu diciptakan oleh Allah untuk menutupi kelemahan.
Ada sebuah kisah bijak yang menceritakan seorang pujangga, Khalil Gibran. Begini kisahnya.
Suatu hari, Khalil Gibran bertanya kepada gurunya:
“Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup..?”
Sang Guru: “Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang..!”.
Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Khalil Gibran kembali dengan tangan hampa, lalu Sang Guru bertanya: “Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun…???”
Gibran: “Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi aku tidak memetiknya, karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah. Namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang TERINDAH, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi..!”
Sambil tersenyum, Sang Guru berkata: “Ya, itulah hidup.. semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, “Karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita utk menerima kekurangan.
Allah menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing2. Tidak usah berkecil hati, tidak usah malu dengan kekurangan pada diri. Pasti ada kelebihan yang mungkin tidak tampak sekarang, tapi muncul suatu hari nanti.