counters

Cinta Kepada Allah

Nabi Muhammad SAW memohon dalam doanya, “Ya Allah, anugerahkanlah aku cinta kepada-Mu, cinta kepada orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada sesuatu yang mendekatkanku kepada cinta-Mu. Jadikanlah cintaku kepada-Mu lebih besar daripada cintaku kepada air yang dingin.”(HR. Abu Naim dari Abu Darda)

Janji Allah dengan Q

Ok ini aku tulis mumpung masih jelas teringat di otak q karena mungkin kalau terlalu lama sudah basi dan q pun lupa.

Mungkin bisa dibilang saat ini masa dimana q sedang mencari hakekat hidup. Setelah iseng-iseng nyari lagu shalawat dan murotal ternyata ada satu file ternyata itu berisi wisata hati dari Ustadz Yusuf Mansyur.

Pertama q dengerin di Ruangan berukuran 7 x 8 m dengan ditemani ribuan buku  masih terdengar lamat-lamat (samar-samar) ada rasa penasaran tapi karena lepi q lagi dipakai buat ngerjain nilai kelas 2, ya sudahlah besok aja dengerinnya.

Setelah mendengarkan wisata hati tersebut ternyata isinya tu intinya begini
Kata Ustadz Yusuf Mansyur Shalat itu adalah janji Allah dengan q
Secara logika dimisalkan begini q telpon dengan ibu lalu ibu bilang mau main ke kost an kita lalu ibu udah tanya minta dimasakin apa, lalu kita jawab pengin dimasakin misalnya opor ayam. Nah kita udah janjian ibu mau datang ke kostan jam 10. Kita udah tahu tuh jam 10 ibu mau datang tapi kita malah pergi dan pas ibu datang kita ga ada trus pintu dikunci. Pasti orang tua marah. Masih untung aja tu pas kita datang ga disiram sama opor ayam yang dibawa tadi.

Nah seperti itulah perumpamaan shalat kita. Shalat itu janji Allah dengan kita jadi sebisa mungkin kita tepatin. apalagi kalo kita ga shalat sama aja kita sudah membuat Allah marah. Bersyukur Allah ga marah dan langsung menghukum umatnya. Dia masih sayang sama kita.

So, kesimpulannya dari wisata hati yang lamat-lamat  aku denger itu mengingatkan kita Supaya kita belajar menetapi janji, janji kita sama Allah dan ga hanya sama Allah saja sama sesama makhluk juga.

Librarian Galau

Saya jadi merenung. Profesi Pustakawan bisa mendapatkan posisi yang terhormat jika perolehannya tidak didapatkan dengan mudah, melalui perjuangan yang berat pula. Bandingkan dengan profesi sejarahwan, arkeolog yang didapatkan dengan berdarah darah, konon kabarnya untuk mendapat gelar Pustakawan syaratnya cukup mudah. Boleh kuliah dimanapun, cukup dengan diklat  penyetaraan perpustakaan 3 bulan. Selesai………
Lantas seperti apakah Pustakawan yang sejati?. Banyak pakar pustakawan yang mengatakan harus bla bla…tapi semuanya merujuk ke idiom Pustakawan yang sudah selesai dengan diri sendiri ? Pustakawan yang sudah lulus melewati tahapan kebutuhan Maslow, ke tahap eksistensi diri.
Pertanyaan ini tidak tiba-tiba muncul, tetapi setelah mendengarkan cerita seorang teman lalu membaca beberapa artikel. Konon, orang-orang besar di negeri ini, seperti Soekarno, Hatta, atau orang-orang yang mau pergi ke pelosok untuk mengabdi tanpa dibayar adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri biasanya sudah tidak lagi menjadikan hal-hal sepele tentang dirinya adalah hal besar. Mereka sudah tidak akan lagi memikirkan: aku bete, aku kesepian, malam ini makan apa ya? cucian numpuk! atau merengek-rengek minta perhatian orang lain.
Pustakawan yang sudah selesai dengan diri sendiri akan menganggap bahwa kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaannya juga. Tetapi bukan berarti dia mendahulukan kepentingan orang lain di atas dirinya. Toh pada akhirnya jika bukan diri sendiri siapa lagi yang akan mengurus dan membahagiakan diri kita kan? Dulu sekali, ada yang pernah berpesan, “Cintailah orang yang mencintai dirinya. Jika dia belum bisa mencintai dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mencintai orang lain.”
Pustakawan yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, artinya sudah membereskan permasalahan hidupnya lalu mulai mengabdikan dirinya untuk orang lain. Dia mulai memikirkan kebahagiaan orang lain. Urusan rakyat banyak. Bukankah sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat untuk orang banyak?
Pertanyaan besarnya, apakah Kepustakawanan Indonesia berunsurkan Pustakawan yang sudah selesai dengan dirinya sendiri? Sayangnya saya kok tidak terlalu yakin….Pustakawan Indonesia adalah Pustakawan yang Belum selesai dengan dirinya sendiri….
Itu lagi artikel yang baru baca yang makin bikin saya sendiri tambah galau.

Pelajaran Baru

Yeaaaah.....
akhirnya setelah aku tunggu 2 bulan lebih dan amat sangat berharap bisa lulus administrasi dan setidaknya buat aku belajar gimana rasanya tes CPNS Sistem CAT yang udah dirasain Yanti dan Yani. 
Hufft.. tapi sayang ternyata saya kurang beruntung. Dan saya ternyata belum dikasih kesempatan untuk itu. 
Sempet sih kemarin bener-bener ngarep banget. Tapi gara-gara nunggu pengumuman seleksi berkas jadi agak ilang mood juga dan sudah terlalu banyak tawaran ini itu. 
Mungkin klo gwe gak ikhlas bakalan kaya gini nih
 
tapi ternyata aku gak selemah aku yang aku kira nyatanya aku bisa biasa aja sih.

Aku sudah pernah mengalami yang lebih dari sekedar ga lulus seleksi GAIS.... hehehe
Dan ini adalah pelajaran baru lagi buat q siap-siap falling down again 
Ini pelajaran juga buat aku yang secara tidak langsung sedang mengikuti seleksi sebagai calon mantu dari cowo yang kelak menjadi suamiku.
Yup harus belajar lagi lagi lagi dan lagi.
Jadi tambah mantep nih buat rencana yang lain.
SEMERU I'm COMIIIIIIIIIIING